Pengalaman Mengurus (dan ditolak) Visa Amerika

 

Sumber gambar :Β https://lifehacker.com/how-to-gracefully-deal-with-rejection-1818702428

Iyeeeees~ bukan salah tulis, pengajuan visa Amerika saya ditolak awal bulan Maret ini :’D rasanya tuh sakit banget karena selama ini mengurus visa negara lain lancar-lancar saja, namanya juga roda berputar ya kadang lancar kadang kesandung batu #mungutbatudipojokan

Mengurus visa Amerika ini sesungguhnya ‘paling unik’ dari negara lain karena petugas konsulatnya lebih suka kalau langsung berhadapan dengan applicantnya daripadaΒ  sekedar mengecek dokumen berhari-hari yang mana bisa memberikan bukti kuat bahwa si applicant worth it untuk bisa traveling.

Kegagalan visa Amerika mostly memang dari kebodohan saya sih :’D #plak berawal dari pengisian form secara online, saya isi sesuai data-data yang benar dan setelah di-submit bodohnya saya tidak print out untuk dipelajari karena saya merasa bahwa saya sudah hafal dengan apa yang saya isi dan lagipula saya sudah print out dokumen-dokumen sakti antara lain slip gaji, bukti potong pajak, rekening koran, surat HRD, bukti reservasi airbnb, dan bahkan tiket pesawat (mana sebelumnya harus bayar visa dulu ke bank cimb niaga sebesar Rp 2,240,000 lageh) #meringis

Nah saat saya datang ke kedutaan untuk jadwal interview, saya di-interview dulu oleh bagian pengecekan dokumen, hanya ditanya tujuan apa ke Amerika, apakah sebelumnya sudah pernah ke Amerika. Sampai saat si petugas menanyakan salary saya berapa saya benar-benar blank saat itu! Karena saya lupa pernah isi berapa ya :’D karena yang saya ingat adalah saya menerima salary sudah dikurangi cicilan koperasi, dengan ragu saya menjawab “A”.

Setelahnya saya dipanggil lagi oleh petugas konsulat sebenarnya! Dari awal saya sudah bad feeling jangan-jangan soal salary ini bakal dipermasalahkan, untuk menghindari kesalahan saya ‘nyontek’ slip gaji saya dan jawabannya adalah “B”. Mana saya dapat loket yang petugasnya (sebut saja Mr Loket 8) sempat bermasalah lage sama applicant sebelumnya karena sudah di-interview 20 menit, mukanya bete sangat -__-” . Pertanyaannya juga standar sih seperti sebelumnya. Feeling saya benar, saya ditanya lagi soal salary ! Saya jawab A+B (saya harusnya konsisten dengan jawaban di awal dan perbedaan jawaban itu malah membuat petugas konsulatnya makin curiga). Tidak lama dia kasih kertas pink dong dengan muka bete alias surat refusal dengan alasan tidak ada ikatan kuat sama Indonesia, hiks.. dokumen saya tidak dilihat sama sekali T__T Sedangkan travel mate saya si Sundus malah visanya granted tapi cuma 3 bulan 😐

Karena penasaran dua minggu kemudian saya kemari lagi tuh apply ulang, anehnya di interview bagian pengecekan dokumen si petugasnya tidak bertanya sama saya sama sekali setelah baca data saya di komputer lumayan lama #makincuriga . Kemudian ketika di interview sama konsulat apesnya saya kedapetan Mr Loket 8 lage! Ini nomer antrian sakti banget ya sengaja mempertemukan saya dengan dia :’D tapi untungnya dia lagi happy sambil menyapa “Selamat Pagi!” setelah dia baca data saya di komputer agak lama juga dia cuma senyum-senyum sambil bilang “Oh.. i see, I see… anda duduk dulu lagi ya nanti akan dipanggil” OMG! Gue mau diapain ya kok disuruh duduk lagi jadi makin deg-degan.

Dipanggil lah saya menuju loket si bapak yang lebih berumur (jangan-jangan saya dilempar ke seniornya si Mr Loket 8, apakah case saya sangat berat #lebay )

Gini nih interview detailnya:

Bapak2: “WAH ANDA HEBAT YA SUDAH KEMANA2 2012 KE JEPANG 2013 KESINI 2014 KESINI 2015 KESINI 2016 KESINI 2017 KESINI” *pakai speaker toa dimana orang-orang di ruang tunggu secara otomatis melihat ke arah saya* maksutnya apa coba 😐

Bapak2: “Salary anda berapa ?” (aduh momok banget ini masalah salary) :’D

Oia ketika isi form kedua, saya baru ingat kalau di form pertama saya tidak memasukkan gaji! Pantes dari pertama kedutaan menanyakan salary #plak

Saya: “Segini…..”

Bapak2: “Wah anda sudah menghafal angka dengan baik ya dan anda sudah tahu alasan kenapa interview pertama ditolak” Sambil senyum-senyum (reseeeeeee)

Bapak2: “Anda terakhir kesini 2 minggu sebelumnya ya”

Saya: “Iya”

Bapak2 : “Saya mau tanya cost ke Eropa berapa waktu itu?”

Saya: “Segini……”

Bapak2: “Menurut saya itu high cost banget, saya penasaran dengan salary anda yang cuma segini (cumaaaa), kok bisa pergi tiap tahun ya apalagi tahun lalu anda ke Australia kan, cost ke Australia berapa”

Saya: “Segini……..”

Bapak2: “Tuh kan high cost juga, anda tahu kenapa waktu itu ditolak?”

Saya cuma geleng-geleng

Bapak2: “Saya mau anda meyakinkan saya dengan salary anda yang segini dan biaya hidup di Jakarta yang tidak murah tapi bisa menyisihkan sebagian untuk traveling tiap tahun dengan cost cukup tinggi”

Saya cuma bilang ‘saving saja’ karena tidak mungkin saya bilang saya dapat pinjaman koperasi kan :’DΒ 

Akhirnya bisa ditebak, saya ditolak lage! Tapi surat penolakannya beda alasan yaitu “tidak bisa membuktikan dengan apa saya bisa pergi ke Amerika” adeh..

Si Bapak ini bilang “Saya minta maaf tidak bisa memberikan anda visa hari ini, sebenarnya anda punya record yang baik dan saya akan menuliskan komentar yang baik tentang anda di data kami, saya tidak akan menjelek-jelekan anda disini, kalau anda mau coba apply lagi saya persilahkan untuk datang tapi tidak dalam jangka waktu dua minggu seperti sekarang”

Yaseh boleh datang lagi tapi kalau saya datang ketiga kali saya sudah bisa beli iphone 6 !Β Akhirnya saya relakan saja untuk tidak pergi ke Amerika dulu karena waktunya belum tepat. Tapi untungnya saya tidak d-blacklist sama kedutaan #fiuh

Beberapa hari setelah penolakan monumental itu saya browsing tentang pengalaman orang-orang yang ditolak visa Amerikanya, rata-rata mereka no idea alasan pasti yang membuat mereka ditolak. Setelah saya ingat-ingat pengalaman saya waktu itu.

Lho….

Saya kok malah dikasih tahu dengan detail sama si bapak itu ya, akhirnya saya sadar (atau hanya feeling saya saja?) Kalau si bapak ini sebenarnya mau kasih saya visa sampai mancing-mancing segala dengan pertanyaan bagaimana saya bisa nabung dengan salary segitu tapi masih bisa jalan-jalan tiap tahun (sebenarnya jawaban gampang BANGET itu) tapi memang saat itu lagi gugup saya malah tidak bisa menjawab apa yang ingin dia dengar, wajar sih si bapak hanya mengikuti SOP dan kalau jawaban saya tidak memuaskan tapi dia kasih saya visa bisa-bisa integritas si bapak akan dipertanyakan. Mungkin si Mr Loket 8 juga ragu mau kasih saya visa/tidak jadi dia lempar saya ke bapak ini untuk final decisionnya. Tapi di kedatangan kedua saya ini saya merasa di treat dengan baik oleh petugas-petugas konsulatnya, saya tidak jadi sebal deh.

Oh well, memang saya tidak boleh pergi dulu karena ternyata saya masih ada masalah pribadi yang harus dibereskan dan kalaupun jadi pergi tidak akan menyelesaikan masalah #mencobamencaripembenaran

Begitulah pengalaman saya mengurus Visa Amerika, kalau tidak mengalami peristiwa ini jadi tidak menarik kan ceritanya :’D

Hikmah dari semuanya adalah, Amerika sangat serius dalam menyeleksi calon traveler untuk ke Amerika, maka jangan main-main dengan form yang kamu isi ya, kecerobohan sedikit akan fatal akibatnya dan bisa dijadikan senjata untuk menolak pengajuan visanya. Bagi yang sedang berjuang mengurus Visa Amerika, good luck!

Advertisements

I Stop Doing #Multitasking and Feel The Magic of #Monotasking

Baru-baru ini saya menemukan ‘keajaiban’ dari teknik #monotasking . Sebagai pekerja kantoran merangkap kunjungan lapangan, saya frustasi bagaimana menghadapi berbagai tasking yang sebegitu banyak dan harus diselesaikan dalam waktu yang cepat? Berkali-kali saya mencari tahu cara dari me-list up task prioritas tinggi sampai ke prioritas lebih rendah, dan lain-lain, tapi hasilnya tetap saja pekerjaan tidak selesai dan tidak maksimal! Sampai akhirnya saya menemukan jawabannya bahwa bukan salah pekerjaannya tapi apa yang salah dengan saya. Ya, saya adalah tipikal orang yang stress jika dalam situasi under pressure, saya panik karena harus menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, sampai saya tidak sadar bahwa selama bertahun-tahun bekerja saya selalu melakukan #multitasking .

Teknik #multitasking adalah melakukan beberapa tasking dalam satu waktu dan diharapkan dapat selesai semuanya, namun itu salah! Justru dengan #multitasking konsentrasi akan terbagi-bagi.Β Menurut salah satu artikel, otak berkapasitas terbatas untuk menampung beberapa tasking. Misal mengerjakan task 1 kemudian pindah ke task 2, perpindahan dari task 1 menuju task 2 butuh beberapa menit untuk otak beradaptasi. Hasilnya kita jd kurang konsentrasi dan kurang fokus.Β Salah satu faktor tersebut juga bisa berdampak pada short term memory seseorang. Akibat dari #multitasking , hasilnya pun kurang maksimal karena otak tidak mendedikasikan untuk 1 task , memang beberapa task akan selesai namun akan banyak koreksi.

Memangnya ada orang yang bisa melakukan #multitasking dengan hasil yang sempurna? Oh ada, hanya 2% dari populasi di dunia yang punya bakat #multitasking . Saya sadar bahwa saya tidak punya bakat #multitasking jadi saya mencoba melakukan teknik #monotasking

#Monotasking adalah teknik yang terfokus hanya satu task saja, saya mencoba melakukan #monotasking dalam mengerjakan 1 task dan hasilnya, voila! Dalam satu hari saya berhasil menyelesaikan 3 top urgent tasks! Walaupun task lainnya jadi terbengkalai setidaknya saya benar-benar ‘menyelesaikan’ 3 tasks itu 100% dan saya tidak percaya bahwa saya bisa melakukan pekerjaan sebaik ini dari sebelum-sebelumnya. Manfaat dari #monotasking adalah saya tidak mudah stress! #multitasking menyebabkan saya mengerjakan pekerjaan yang bertubi-tubi, konsentrasi terbagi-bagi, mental saya menjadi tertekan dan tinggal menunggu waktu sampai akhirnya ‘meledak’. Namun dengan #monotasking secara mental saya merasa tenang dan damai karena saya konsentrasi dengan 1 kegiatan saja tanpa punya pikiran kemana-mana sehingga ketika berinteraksi dengan orang kantor sembari bekerja saya tidak ‘zonk’. Oia, berkat #monotasking saya jadi kebiasaan fokus ketika mengobrol dengan seseorang, biasanya saya mikir dulu karena otak butuh penyesuaian baru bisa jawab, sekarang saya jadi bisa menjawab dengan cepat karena otak langsung bekerja, saya jadi jarang mengalami apa yang namanya ‘short term memory’.

Contoh sederhana #monotasking di kegiatan sehari-hari, ketika nonton tv tentang travel di Italy saya sudah tidak live tweet seperti sebelum-sebelumnya, saya simpan hp-nya di kamar dan fokus untuk mendalami acara tersebut dan saya menyadari bahwa hostnya itu menikmati sekali ketika mencoba makanan otentik sambil berkomentar lucu, kemudian pemandangan negara Italy keren banget! Jika saya sedikit-sedikit buka hp tentu saya bisa terlewat pemandangan keren tadi

Kira-kira begitulah pengalaman saya #monotasking semoga teknik ini bisa saya pergunakan seterusnya baik di dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari πŸ™‚

Pelesiran ke Negeri Koala, Australia

Perth, Australia

Bulan Mei tahun lalu saya diundang sepupu yang sekolah di Melbourne dan sepupu satu lagi yang kerja di Perth ke tempat mereka, jadi mumpung kedua sepupu saya semua lagi ada di Australia apa salahnya saya solo trip kesana hitung-hitung refreshing setelah closing tahunan yang jatuh di bulan April. Kebetulan juga sedang ada promo Air Asia dan Tiger Airways! Tapi saya disini beli beberapa tiket terpisah;

  1. Jakarta – Kuala Lumpur PP (Air Asia)
  2. Kuala Lumpur – Melbourne (Air Asia)
  3. Melboune – Perth (Tiger)
  4. Perth – Kuala Lumpur (Air Asia)

Total semuanya adalah hanya Rp 4 Juta saja! (sebelum meal dan bagasi), saya sama sekali tidak terpikir bahwa di Australia sedang winter, untungnya saya bawa jaket Uniqlo dan benar-benar berguna! (bukan iklan tapi kenyataan)

Melbourne, kota pelajar dan para hippies!

Belum keluar airport saya sudah mengalami kejadian tidak menyenangkan dengan petugas imigrasi yang mengajukan pertanyaan nonsense, yang kalau kata sepupu saya dia cuma usil sama saya, sebel -__- cerita saya diusili petugas imigrasi ada disini.

Oia, Melbourne ini ibarat seperti Bandung dan Jogja kali ya karena abege-abege atau mahasiswa banyak bersliweran apalagi tepat saya datang ke Melbourne pas weekend jadi mereka hangout dengan pakaian yang aneh-aneh ala hippies, mungkin bisa disamakan dengan abege-abege di London.

Sistem Transportasi Melbourne

Sesungguhnya saya merindukan sistem transportasi di Belanda (katanya sih yang terbaik di dunia) yang walaupun bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda tapi saya paham pakai banget. Sistem kereta api di Melbourne sebenarnya sudah bagus tapi sampai hari terakhir saya di Melbourne masih saja salah padahal sudah dibantu googlemaps, seringnya saya naik kereta yang sudah benar tapi arahnya selalu kebalik alias salah platform :'(((( seharusnya ke selatan malah ke utara, atau ke timur malah ke barat, hari terakhir ketika ke airport saya malah turun di stasiun sebelumnya padahal keretanya justru langsung ke airport, kejadian di saya adalah sering mis-reading. Setibanya di Melbourne hari pertama dan menuju tempat nginep saya di Airbnb membutuhkan waktu dua jam karena kesasar, sudah hampir tengah malam saya berada di stasiun in the middle of nowhere gelap pula, negara maju itu ya kalau sudah malam sepiiii banget, beda dengan Jakarta :'((( saat itu saya sendirian deg-degan, takut, tapi penasaran juga terus seneng campur aduk pokoknya πŸ˜€ aneh ya, hahaha.

Selain naik kereta, tidak afdol bermain di Melbourne kalau tidak naik trem. Dari Airbnb ke CBD bisa menggunakan trem walaupun jalannya lelet banget tapi atleast sudah mencoba naik mode transportasi tradisional ini.

Trem di Melbourne, serasa di London

Airbnb di Melbourne

Saya menginap di rumah suami istri muda yang interiornya saya sudah naksir waktu pesan di Airbnb, tata letak furniture-nya bagus! Bisa jadi sumber inspirasi kalau saya punya rumah sendiri #ngayalbolehdong . Oia mereka ini pasangan yang sibuk banget, istrinya kerja di dua tempat, suaminya manager restoran, walaupun serumah tapi hidup masing-masing, misal suaminya duluan pulang terus masak buat dia sendiri, atau istrinya pulang duluan terus belanja dan masak buat dia sendiri juga, suaminya tidak disisakan, kasian amat, mungkin kalau bule biasa begitu kali ya -__-

Airbnb, suka sama decoration ideas-nya πŸ˜€

Saya punya pengalaman lucu di rumah mereka, waktu itu saya pulang sudah malam ternyata suaminya sudah duduk manis di sofa sambil nonton tv, basa basi lha ya kita, saya cerita tentang tur seharian sebelum saya ke kamar mandi persis belakang sofa, ketika saya tanya kemana istrinya dia bilang belum pulang, oohh yasudah.. Setelah mandi saya basa basi lagi bilang permisi mau tidur terus dijawab “have a good dream” romantis ya sama orang baru kenal disapa begitu atau lagi-lagi itu sudah biasa? πŸ˜€ Kemudian di kamar, saya masih belum tidur, sibuk main socmed sambil makan chips, terus kedengaran suara tv di depan, saya jadi kepikiran lha ini kaya saya yang jadi istrinya nunggu suami selesai nonton tv! Hahahaha!! Entah saya mikir ooo.. kaya gini serumah sama suami bule lol

Tapi saking sibuknya, mereka sampai tidak menulis testimoni saya di Airbnb padahal buat CV saya itu untuk trip berikutnya kan lumayan 😦 Pelajaran buat saya kalau mau stay di Airbnb sekalian yang Superhost saja karena mereka rajin menulis testimoni ke guest-guestnya.

Sightseeing di Melbourne dan Great Ocean Road

Kalau hanya sekedar mau jalan-jalan manis dan nongkrong cantik, pas lah kalau melakukannya disini. Banyak resto dan coffee shop trendi (halah bahasa jadul) yang seru untuk didatangi. Salah satunya adalah coffee shop St.Ali yang berkonsep interior ‘rusty’ dengan bartender – cowok botak bertato dan beard.. soooo hippies! Saya menikmati sekali ngopi disana sambil baca novel.

St Ali Cafe (sumber gambar)

Salah satu sudut di Library State of Victoria, karena Melbourne saat itu udaranya lagi ‘chill’, goleran di atas rumput nyaman banget!

Lagi serius main catur πŸ˜€

Kemudian saya mengikuti tour Great Ocean Road yang sepanjang jalan menelusuri tebing di sisi kanan dan sisi kiri pantai kalau kata hostnya seperti menelusuri Pantai Miami. Saya juga berhasil melihat Koala disana.

Nih koala lagi sadar kamera dan beruntung saya bisa mengabadikannya karena koala-koala yang lain tidur semua :’D

Perth, Kota Kecil yang Tenang

Sesunggunya saya lebih menyukai Melbourne daripada Perth, karena saya tipikal senang dengan suasana sibuk di kota, di Perth ini cenderung sepiiii banget. Mungkin lebih tepatnya seperti kompleks perumahan daripada dibilang kota bahkan CBD-nya menurut saya versi mini, beda dengan Melbourne yang luas dan crowded.

Saya sampai bilang ke sepupu saya yang tinggal di Perth kalau saya bisa mati bosan saking sepinya.

Karena Perth kota pelabuhan, duduk-duduk di pier sambil melihat suasana kota di kejauhan juga menyenangkan, oia, seafoodnya juga enak!

Comfy baca novel disini sambil mendengar burung-burung seagull bermain πŸ™‚

Saya suka Australia karena beda dengan Eropa yang kaku (kecuali Belanda, hehehe). Di negara ini orang-orangnya santai dan ramah pokoknya menikmati hidup deh jadi mengingatkan saya dengan New Zealand, udaranya juga bersih.

9 Resolusi di Tahun 2018!

What is your favourite New Year quote? πŸ˜€

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menulis artikel khusus tahun baru adalah ritual saya setiap tahun tujuannya untuk meng-evaluasi kembali apa yang saya lakukan selama tahun ini dan resolusi apa yang akan saya terapkan di tahun depan, pastinya tidak asal tulis, tapi saya usahakan resolusinya berjalan #jiee #cobasaja

Baik, saya jabarkan resolusi 2018 dari berbagai aspek kehidupan saya sehari-hari :

1. Do #Monotasking , instead of #Multitasking . Beberapa hari sebelumnya saya mencoba mempraktekan apa yang namanya #Monotasking yaitu fokus mengerjakan satu hal saja. Hasilnya yang saya rasakan adalah saya jadi belajar untuk konsentrasi, jiwa saya menjadi lebih tenang, tidak mudah stress, dan tidak mudah terdistraksi karena #Multitasking membuat konsentrasi terbagi-bagi dan tidak terpusat sehingga hasil tidak maksimal. Contoh simpelnya, saya menulis blog (konsentrasi terpusat pada menulis) tanpa nyambi buka-buka youtube atau social media yang membuat saya malah tidak fokus, tulisan tidak selesai sampai akhirnya malas untuk melanjutkan, hasilnya pun tidak maksimal. Manfaat dari #Monotasking ini, saya mulai merasakan nikmatnya menulis sambil wondering atau mencari inspirasi apa yang mau saya tulis di kalimat berikutnya.

2. Membatasi Smartphone. Apapun itu dari membatasi buka social media sampai ke aplikasi chatting seperti whatsapp. Saya merasa tertusuk oleh kata-kata Simon Sinek bahwa sering mengecek smartphone salah satunya bisa mengakibatkan terblokirnya inspirasi yang datang dari luar, misalnya ketika naik kereta saat travelling, daripada cek hp untuk sekedar update status social media atau chatting dengan teman-teman, saya memilih untuk menyimpan hp tersebut di tas kemudian melihat pemandangan di luar jendela; indahnya pemandangan, mengamati orang-orang yang berlalu lalang, bahkan berkesempatan untuk ngobrol dengan penumpang depan saya. Betapa sangat menyenangkan menikmati momen tersebut. Untungnya hp saya ada fasilitas yang bisa membuat account user baru, saya membuat account anonymous yang tidak ada aplikasi sama sekali selain google maps dan kamera. Jika tidak mau terdistraksi ketika sedang menikmati momen, saya suka switch ke user anonymous sehingga tidak ada notifikasi chat maupun social media sehingga saya terpaksa harus membukanya kembali ke user original. Smartphone juga membuat seseorang jadi kurang produktif, misalnya ketika bekerja sambil bermain hp, nah pada saat perpindahan kegiatan dari hp ke pekerjaan awal, otak butuh waktu untuk beradaptasi lagi (familiar dengan kata-kata “tadi saya mengerjakan apa ya?”) Sehingga pekerjaan yang harusnya bisa selesai cepat dengan hasil yang maksimal menjadi mundur dengan hasil yang kurang maksimal. Jadi, kesampingkan smartphone dan lakukan banyak kreatifitas!

3. Doing Exercise in Spare Time. Yap! Saya harus rajin berolah raga tidak hanya untuk menguruskan badan #jiee tapi juga untuk memperlancar metabolisme ketika saya ada waktu luang. Olah raga juga menguapkan zat yang bikin stress lho! Membuat otak relax, dan meningkatkan kualitas tidur

4. Solve the Problem by Keep it Simple. Apapun masalah harus dihadapi dengan jalan pikiran yang simpel, dan ingat.. jangan diperpanjang dan melebih-lebihkan!

5. Ignore Toxic People. Waini, kejelekan saya adalah sering diambil hati ketika ada orang yang melakukan hal yang tidak baik ke diri saya, ini sering terjadi di lingkungan kerja sehingga membuat mood saya jelek. Saya baca beberapa artikel bagaimana menghadapi orang tersebut, saya tersentuh dengan kalimat “those people doesn’t worth your time, so ignore them by doing something you like to do and make yourself surrounded by people with positive mind!”

6.Β Careful with Your Heart. Ehem, ini hasil kaleidoskop saya untuk tahun depan, memang sih saya menyadari karena tidak jujur dengan diri saya sendiri saya jadi kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hati saya #uhuk so untuk selanjutnya saya janji saya akan jujur dengan hati saya, kejar cinta itu, dan gengsi dibuang ke laut! πŸ˜€

7. Appreciate Yourself. Tidak lama sebelum hari ini, saya mencoba menghargai diri sendiri dengan memperbaiki penampilan dan talk to my self that “I’m beautiful with my version self”, secara tidak sadar, rasa percaya diri muncul. Suatu hari saya dipuji bahwa saya cantik oleh beberapa cowok! πŸ˜€ padahal sebelumnya saya tidak pernah dipuji terang-terangan begitu lho, bahkan “dia” pernah memuji saya juga cantik tapi saat itu saya tidak percaya diri dan tetap berpenampilan cuek. But whatever they said I’m beautiful karena memang mereka hanya iseng atau hati mereka sedang senang tapi pastinya ada yang memicu mereka memuji saya dong, tidak mungkin saya berpenampilan tidak menarik tapi mereka bilang saya cantik πŸ˜‰ Sekali lagi cantik itu relatif; kita cantik menurut versi kita masing-masing, cantik dengan menjadi cantik untuk diri sendiri.. itulah yang namanya menghargai diri sendiri #kekiklanpemutihwajah

8. Talk Positively. Mulai hari ini saya berprinsip apapun kejelekan orang baik berupa gosip saja maupun memang beneran jelek, saya berusaha untuk talk positively atau setidaknya talk neutraly, bukan berarti saya menjawab positif seperti ini “Ya dia selingkuh mungkin ada masalah dalam rumah tangga”, tapi “Ohh, dia selingkuh…” Itu saja πŸ˜€

9. Dan yang terakhir, Plan Your Daily Activity with a PLANNER ! Setelah beberapa hari kemarin saya trial dengan menulis rencana aktifitas saya di planner, kegiatan saya jadi ter-struktur, saya jadi merasa punya kewajiban untuk mengerjakan apa yang saya tulis, dan saya bisa meng-evaluasi kembali kegiatan saya selama seminggu, apakah ada kekurangan yang bisa diperbaiki.

Planner yang saya beli Online! πŸ™‚

Sekian resolusi 2018 saya, tidak mulu-muluk banget juga ya dan ternyata lebih banyak perbaikan diri, hehehe

May Your Life Will be a Full of Adventures so You Can Surprise Yourself

Happy New Year!!

Eropa Barat Part IV: Brussels (Belgia) & Luxembourg

Akhirnya, sampailah ke perjalanan terakhir di negara kecil ini tapi bikin kangen!

Pada dasarnya Brussels di Belgia dan Luxembourg adalah kota yang mungiil banget! Mungkin kakek-kakek dan nenek-nenek Eropa bisa lebih nyaman menghabiskan masa tuanya disana, dan buat honeymoon juga romantis #tetibabaperlagi

Brussels terkenal dengan alun-alun namanya Grand Place dimana kita bisa melihat arsitektur menawan 360 derajat

Dan yang terkenal lainnya adalah Manekin Pis yaitu anak kecil sedang pipis! Kalau dilihat di internet megah tapi ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri tuh bocah kecil banget sampai-sampai ketika saya foto cuma kelihatan turis saja :’D makanya bagi kalian yang jauh-jauh ke Brussels hanya mau lihat Manekin Pis, batalkan lah niat kalian. Sebagai pengganti rasa kecewa, saya beli Belgian Waffles dengan harga 1 euro yang wuenaaak! Memang tidak salah Waffles yang paling terkenal adanya di Brussles, oia, saya beli coklat Godiva harganya murah hanya 100ribu saja dan kalau di Indonesia bisa sampai 200ribuan

Luxembourg saya hanya ceritakan dalam bentuk foto ya πŸ˜€

Eropa Barat Part III: Frankfurt & Kohn (Cologne), Jerman

Bisa dibilang Jerman lebih baik dari Perancis, saya mengunjungi Frankfurt (dimana saya mencoba Hot Dog Frankfurt, yum!) dan Kohn. Frankfurt adalah negara maju, mobil-mobilnya saja BMW atau Audi melalang buana, kalau di Jakarta sudah seperti Avanza atau Xenia πŸ˜€ Saya juga mengunjungi Hauptbahnhof yaitu stasiun dengan kereta-kereta super canggih dan saya jadi teringat kisah mantan presiden BJ Habibie yang menimba ilmu di Jerman.

Menurut saya negara Jerman ini bersih dan modern. Kemudian Kohn atau Cologne adalah kota yang terkenal dengan parfum-nya, ada satu toko parfum namanya 4711 yang memiliki fountain wangi! Saya mengambil air dari fountain tersebut dan ‘dipeperkan’ ke baju hahaha! Tapi saya beli juga kok untuk orang-orang dekat di Indonesia, hehehe.

Kemudian saya juga mengunjungi gereja St Peter, gereja ini bergaya gothic dan ternyata memang benar-benar gothic karena dibangun tahun 1200-an. Saya mengambil gambar patung-patung diatas gereja yang seperti di film-film, dan interiornya ternyata lebih seram daripada gereja-gereja yang saya datangi (mungkin karena bergaya gothic) dan kebetulan saat itu lagi ada misa, saya berkesempatan mendengarkan permainan organ kuno yang mengingatkan saya dengan film-film drakula, agak-agak mencekam gimana gitu πŸ˜€

Dan disini lah saya pertama kali membuat waffle sendiri di hotel Jerman! Tapi sayang karena adonannya kebanyakan jadi bleber kemana-kemana :’D

Karena waktunya sangat singkat sekali di Jerman, saya masih penasaran dengan negara ini karena belum sempat kemana-mana, dan kalau ada rejeki mudah-mudahan saya bisa kesana lagi πŸ™‚

Eropa Barat Part II: Paris, Perancis

Setelah membahas tentang negara yang paling saya suka diantara negara lain yang saya kunjungi tahun lalu (iya ini sudah lama tapi saya belum update lol ) yaitu Belanda, kali ini justru saya mau membahas negara yang paling saya benci dan kalau cerita tentang Perancis rasanya mau cepat-cepat sudahan saja πŸ˜€

Meninggalkan Brussels kemudian menuju Torcy, Perancis, memakan waktu sekitar 6-7 jam. Saya suka pemandangan sepanjang perjalanan, kiri-kanan jalan ada berbukit-bukit perkebunan dan pedesaan sambil mampir ke rest area untuk sekedar memenuhi panggilan alam dimana di tempat ini saya mulai merasakan perlakuan rasis para pelayan di toko, waktu itu toilet memang penuh antriannya terutama antrian wanita, kami harus bersaing dengan para turis dari Cina (saya membayangkan toiletnya pasti jadi jorok, halaah..), melihat situasi itu driver kami yang orang Belanda memberikan kami arahan menuju toilet…. PRIA! Karena beramai-ramai kami pun pede masuk kedalam sambil diperhatikan para antrian turis Cina, haha!

Nah setelah kami keluar dari toilet, saya dan Mba ChitaΒ  – teman seperjalanan melihat-lihat produk di toko sambil menunggu teman-teman kami yang lain dari toilet, tiba-tiba ada dua pelayan wanita yang bisik-bisik dengan bahasa Perancis. Mba Chita yang paham bahasa Perancis menguping dan bicara ke saya “tau ga mba, mereka itu ngomongin kita, dibilang ga punya sopan santun ke toilet pria, dasar orang asia ga punya tata krama”, malesin banget gak sih! Padahal kami berani ke toilet pria karena arahan bapak driver yang mempertimbangkan kami dikejar waktu. Setelah mendengar percakapan mereka kami pun langsung menuju bis karena sudah malas.

Sesampainya di Torcy, kami diarahkan menuju hotel dan iseng jalan-jalan sore ke Disneyland Paris menggunakan kereta dari Torcy, saya menyadari banyak sekali orang-orang kulit hitam disini. Ada beberapa kejanggalan setibanya kami disini, misalnya di dalam stasiun, para penumpang keluar dari gate tanpa memasukkan karcis kereta tapi malah dilompati! Tidak hanya orang-orang kulit hitam tapi orang-orang kulit putih juga. Negara macam apa ini. Kemudian besok paginya, ketika sarapan kami dan teman-teman suka memeras buah-buahan di ruang makan karena ada alatnya! Tapinya…. masa besok paginya buah-buahan tersebut tidak ada, ini pasti pelayannya sengaja menyembunyikan supaya kami tidak ambil buah-buahan lagi, service resto ini menyebalkan sekali! Kemudian yang saya tidak suka menginap di hotel ini karena setelah Mba Chita melihat review hotelnya di internet, ternyata beberapa kejadian ada maling masuk ke dalam kamar pada saat penghuni tidur untuk menilap uang! Jadilah saya dan Mba Chita memasukkan uang kami di money belt kemudian dipakai di pinggang sambil tidur!

Baik, lupakan soal buah dan maling. Kami melakukan perjalanan menuju Paris, yeah.. saya akui arsitektur negara ini super cantik dimana-mana banyak bangunan dengan detail menawan malah justru paling cantik diantara negara-negara West Europe yang saya datangi, romantis.

Tapi ketika kami jalan kaki di dalam kota bukannya kami menghirup mewangian parfum Perancis yang sering ada di tv-tv, tapi aroma PESING yang menyengat, saya langsung ilfil. Ditambah lagi antrian menuju Gereja Notre Dame-nya pun panjang dan melingkar-lingkar tapi karena gratis dan penasaran kamipun masuk ke dalam, arsitekturnya luar biasa indah dan sangat historical dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi.

Keluar dari gereja, saya lapar dan memesan crepes dengan gula pasir saja harganya 5 Euro pemirsa, kemudian croissant kosong yang menjadi ciri khas Perancis juga 5 Euro. Total 10 Euro untuk crepes gula pasir dan croissant tanpa isi. Charge toiletnya juga mahal sekitar 2 Euro, saya sampai menahan pipis saking malasnya.

Perjalananan pun berlanjut ke Arc The Triomphe dan Museum Louvre (saya kesana karena mau melihat segitiga yang menjadi trademark di film The Da Vinci Code), dan yang paling nge-hits adalah Menara Eiffel yang menurut saya biasa saja (beberapa teman kami sampai ganti baju supaya bisa foto-foto di balik bangunan tersebut). Sambil menunggu mereka selesai foto, saya dan Mba Chita beserta suaminya duduk di rumput dibawah Menara Eiffel sambil menikmati pemandangan sekitar (sesungguhnya kalau sama pacar pasti jadi romantis #tetibabaper ). Tapi sayangnya kami sering terganggu dengan orang-orang (yang sepertinya imigran) menghampiri kami dan entah mereka bicara apa tapi kami tidak menanggapi karena kami tahu bahwa mereka mencoba untuk meng-scam kami.

Oia, ternyata imigran di Paris banyak sekali, tapi sayangnya banyak dari mereka yang melakukan kriminal terutama terhadap turis sehingga saya dapat memahami mengapa orang Perancis tidak suka dengan orang beda ras, mungkin saking terbiasanya dengan pencopetan disana saya melihat dengan mata kepala sendiri ada copet yangΒ  kabur serelah mengambil dompet turis Cina (lagian salah sendiri, rata-rata orang Cina disana terlihat ‘flashy’ sehingga sering jadi sasaran copet), lucunya ketika copetnya lari polisinya cuma terlihat basa basi gitu ngejarnya -__-

Berlanjut menemani teman-teman kami belanja di Galeries Lafayette (dasar orang Indonesia) yang interiornya mengingatkan saya dengan Matahari (tidak terlihat high class seperti di Pacific Place Jakarta), dan yang lebih mengagetkan lagi ketika kami makan siang di McD seberangnya ada resto apa.. PAUL !! Yang kalau di Jakarta orang muja-muja ini resto adalah restoran high class, padahal sih di Paris PAUL itu disandingkan dengan resto fastfood LOL coba deh lihat resto PAUL di Pacific Place. Kemudian kami belanja oleh-oleh di Carrefour yang interiornya mirip dengan Superindo -__-

Terakhir saya mau menceritakan pengalaman menyebalkan dengan customer service dekat dengan Lafayette, Mba Chita ngidam banget mau makan escargot! Saya pun inisiatif menanyakan ke customer service dimana kami bisa makan escargot di pinggiran jalan.

Saya: Halo, saya mau tanya kalau makan escargot dimana ya?

CS: Tunggu saja nanti baru ada jam 20:30

Saya:Β Mungkin dipikir saya mau fine dining kali ya. Bukan, saya maunya makan di pinggiran aja, ga mau makan di resto

CS: (menghela napas) Kamu orang mana sih?

Saya:Β minta digeplak nih orang, jadi cowok jutek banget. Saya orang Indonesia, saya tidak sempat makan malam disini karena saya mau jalan ke Jerman. Yasudahlah, saya cari tau sendiri! *langsung melenggang keluar tanpa dengar dia bicara lagi*

Kesimpulan saya cowok Perancis itu necis tapi JUTEK.

Akhirnya ketemu dong cafe kecil disekitar situ yang menjual escargot gara-gara Mba Chita lihat ada orang yang makan escargot, bloon tuh CS. Harganya 16 Euro isi 16 biji kecil-keciiiiil banget, tadinya kami mau jaim ala Parisian makan pakai alat tapi karena dikejar waktu kami congkel pakai tangan, hahaha! Kami juga menyempatkan ngopi disitu juga sambil bergaya ala-ala Parisian tapi kami malah lupa foto!

Begitulah kira-kira cerita saya di Perancis, kalau ada yang ngajak saya ke Perancis lagi unfortunately I said OFCOURSE NOT. Apa yang terlihat cantik di luar belum tentu cantik di dalam.

Terbuka bagi siapa saya yang bisa merubah pendapat buruk saya terhadap Perancis, monggo. πŸ™‚