Pelesiran ke Negeri Koala, Australia

Perth, Australia

Bulan Mei tahun lalu saya diundang sepupu yang sekolah di Melbourne dan sepupu satu lagi yang kerja di Perth ke tempat mereka, jadi mumpung kedua sepupu saya semua lagi ada di Australia apa salahnya saya solo trip kesana hitung-hitung refreshing setelah closing tahunan yang jatuh di bulan April. Kebetulan juga sedang ada promo Air Asia dan Tiger Airways! Tapi saya disini beli beberapa tiket terpisah;

  1. Jakarta – Kuala Lumpur PP (Air Asia)
  2. Kuala Lumpur – Melbourne (Air Asia)
  3. Melboune – Perth (Tiger)
  4. Perth – Kuala Lumpur (Air Asia)

Total semuanya adalah hanya Rp 4 Juta saja! (sebelum meal dan bagasi), saya sama sekali tidak terpikir bahwa di Australia sedang winter, untungnya saya bawa jaket Uniqlo dan benar-benar berguna! (bukan iklan tapi kenyataan)

Melbourne, kota pelajar dan para hippies!

Belum keluar airport saya sudah mengalami kejadian tidak menyenangkan dengan petugas imigrasi yang mengajukan pertanyaan nonsense, yang kalau kata sepupu saya dia cuma usil sama saya, sebel -__- cerita saya diusili petugas imigrasi ada disini.

Oia, Melbourne ini ibarat seperti Bandung dan Jogja kali ya karena abege-abege atau mahasiswa banyak bersliweran apalagi tepat saya datang ke Melbourne pas weekend jadi mereka hangout dengan pakaian yang aneh-aneh ala hippies, mungkin bisa disamakan dengan abege-abege di London.

Sistem Transportasi Melbourne

Sesungguhnya saya merindukan sistem transportasi di Belanda (katanya sih yang terbaik di dunia) yang walaupun bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda tapi saya paham pakai banget. Sistem kereta api di Melbourne sebenarnya sudah bagus tapi sampai hari terakhir saya di Melbourne masih saja salah padahal sudah dibantu googlemaps, seringnya saya naik kereta yang sudah benar tapi arahnya selalu kebalik alias salah platform :'(((( seharusnya ke selatan malah ke utara, atau ke timur malah ke barat, hari terakhir ketika ke airport saya malah turun di stasiun sebelumnya padahal keretanya justru langsung ke airport, kejadian di saya adalah sering mis-reading. Setibanya di Melbourne hari pertama dan menuju tempat nginep saya di Airbnb membutuhkan waktu dua jam karena kesasar, sudah hampir tengah malam saya berada di stasiun in the middle of nowhere gelap pula, negara maju itu ya kalau sudah malam sepiiii banget, beda dengan Jakarta :'((( saat itu saya sendirian deg-degan, takut, tapi penasaran juga terus seneng campur aduk pokoknya 😀 aneh ya, hahaha.

Selain naik kereta, tidak afdol bermain di Melbourne kalau tidak naik trem. Dari Airbnb ke CBD bisa menggunakan trem walaupun jalannya lelet banget tapi atleast sudah mencoba naik mode transportasi tradisional ini.

Trem di Melbourne, serasa di London

Airbnb di Melbourne

Saya menginap di rumah suami istri muda yang interiornya saya sudah naksir waktu pesan di Airbnb, tata letak furniture-nya bagus! Bisa jadi sumber inspirasi kalau saya punya rumah sendiri #ngayalbolehdong . Oia mereka ini pasangan yang sibuk banget, istrinya kerja di dua tempat, suaminya manager restoran, walaupun serumah tapi hidup masing-masing, misal suaminya duluan pulang terus masak buat dia sendiri, atau istrinya pulang duluan terus belanja dan masak buat dia sendiri juga, suaminya tidak disisakan, kasian amat, mungkin kalau bule biasa begitu kali ya -__-

Airbnb, suka sama decoration ideas-nya 😀

Saya punya pengalaman lucu di rumah mereka, waktu itu saya pulang sudah malam ternyata suaminya sudah duduk manis di sofa sambil nonton tv, basa basi lha ya kita, saya cerita tentang tur seharian sebelum saya ke kamar mandi persis belakang sofa, ketika saya tanya kemana istrinya dia bilang belum pulang, oohh yasudah.. Setelah mandi saya basa basi lagi bilang permisi mau tidur terus dijawab “have a good dream” romantis ya sama orang baru kenal disapa begitu atau lagi-lagi itu sudah biasa? 😀 Kemudian di kamar, saya masih belum tidur, sibuk main socmed sambil makan chips, terus kedengaran suara tv di depan, saya jadi kepikiran lha ini kaya saya yang jadi istrinya nunggu suami selesai nonton tv! Hahahaha!! Entah saya mikir ooo.. kaya gini serumah sama suami bule lol

Tapi saking sibuknya, mereka sampai tidak menulis testimoni saya di Airbnb padahal buat CV saya itu untuk trip berikutnya kan lumayan 😦 Pelajaran buat saya kalau mau stay di Airbnb sekalian yang Superhost saja karena mereka rajin menulis testimoni ke guest-guestnya.

Sightseeing di Melbourne dan Great Ocean Road

Kalau hanya sekedar mau jalan-jalan manis dan nongkrong cantik, pas lah kalau melakukannya disini. Banyak resto dan coffee shop trendi (halah bahasa jadul) yang seru untuk didatangi. Salah satunya adalah coffee shop St.Ali yang berkonsep interior ‘rusty’ dengan bartender – cowok botak bertato dan beard.. soooo hippies! Saya menikmati sekali ngopi disana sambil baca novel.

St Ali Cafe (sumber gambar)

Salah satu sudut di Library State of Victoria, karena Melbourne saat itu udaranya lagi ‘chill’, goleran di atas rumput nyaman banget!

Lagi serius main catur 😀

Kemudian saya mengikuti tour Great Ocean Road yang sepanjang jalan menelusuri tebing di sisi kanan dan sisi kiri pantai kalau kata hostnya seperti menelusuri Pantai Miami. Saya juga berhasil melihat Koala disana.

Nih koala lagi sadar kamera dan beruntung saya bisa mengabadikannya karena koala-koala yang lain tidur semua :’D

Perth, Kota Kecil yang Tenang

Sesunggunya saya lebih menyukai Melbourne daripada Perth, karena saya tipikal senang dengan suasana sibuk di kota, di Perth ini cenderung sepiiii banget. Mungkin lebih tepatnya seperti kompleks perumahan daripada dibilang kota bahkan CBD-nya menurut saya versi mini, beda dengan Melbourne yang luas dan crowded.

Saya sampai bilang ke sepupu saya yang tinggal di Perth kalau saya bisa mati bosan saking sepinya.

Karena Perth kota pelabuhan, duduk-duduk di pier sambil melihat suasana kota di kejauhan juga menyenangkan, oia, seafoodnya juga enak!

Comfy baca novel disini sambil mendengar burung-burung seagull bermain 🙂

Saya suka Australia karena beda dengan Eropa yang kaku (kecuali Belanda, hehehe). Di negara ini orang-orangnya santai dan ramah pokoknya menikmati hidup deh jadi mengingatkan saya dengan New Zealand, udaranya juga bersih.

Pertama Kali Menggunakan Airbnb

Pemandangan kompleks perumahan di Utrecht dari dalam rumah

Hola, saya kembali~! Setelah 2 minggu melalang buana ke Eropa Barat, saatnya saya berbagi cerita di blog! Berhubung banyak banget yang mau di-ceritakan, postingan akan di-publish terpisah aja 😀

Bagi yang sering traveling pasti tidak aneh mendengar kata Airbnb, fasilitas akomodasi ini lagi populer dimana-mana bahkan host saya di Belanda juga rencana pakai Airbnb ketika akan berkunjung ke Los Angeles.

Saya memutuskan pakai Airbnb karena semakin umur (sadar wes tue) sudah tidak bisa kompromi menginap di hostel yang kebanyakan tamu-nya abege labil dan berisiknya itu loh.. gak nahan! Saya ingin tidur dengan tenang, makan dengan tenang, santai dengan tenang, tanpa harus basa basi dengan penghuni sekamar maupun penghuni hostel di pantry. Walaupun saya ikut open trip waktu ke Eropa, namun di minggu pertama saya duluan tiba di Belanda sendirian. Saya memutuskan menginap di Utrecht karena saya tidak terlalu suka kota metropolitan yang crowded dan sesak seperti Amsterdam atau Rotterdam (cukup sudah saya merasakannya di Jakarta setiap hari T_T). Berhubung baru pertama kali menggunakan Airbnb, saya memilih host yang punya reputasi baik di testimonial, kalau dapat host dengan title superhost malah lebih bagus lagi.

Berdasarkan postingannya Mba Ade tentang tips memesan via Airbnb, saya tidak langsung klik ‘instant booking’ melainkan kirim private message ke host atleast menghormati sang host 😀 Dari 5 host yang saya message, 2 declined dan 1 PHP (hiks), namun 2 host menerima saya! Setelah mempertimbangan 2 host akhirnya saya pilih Martijn sang superhost sebagai host saya disana (beruntung banget!).

Pembicaraan antara saya dan Martijn (maaf ya Mba Ade kata-katanya saya contek sedikit, hehehe)

Satu hari menjelang keberangkatan ke Belanda, saya di private message oleh Martijn yang menanyakan kapan saya datang dan jika dia tidak ada di rumah, kunci ada di loker samping rumahnya yang bisa dibuka dengan 4 digit password. Baiklaaahh, tinggal bagaimana perjalanan saya dari Amsterdam ke Utrecht saja nih berhubung saya perdana traveling sendirian 😛

Untuk mencari rumahnya Martijn di Utrecht, googlemaps amat sangat membantu saya. Selain berfungsi sebagai live map, googlemaps juga memberikan informasi detail tentang kereta dan bis nomer berapa yang harus saya naiki berikut platform serta schedule waktunya sehingga tidak perlu buang-buang waktu nanya kesana kemari. Tidak rugi deh saya pasang paket internet provider di Indonesia mahal-mahal biar bisa akses googlemaps XD tapi lain kali pakai mifi/wifi portable saja ya lumayan bisa saving 50% dari harga paket internet yang saya pakai 😦

Pengalaman di Rumah Sang Superhost.

Pertama kali memasuki rumahnya Martijn di Utrecht, yang saya pikirkan adalah…. ini saya mesti lepas sepatu gak sih!? Karena takut rumahnya kotor, saya nyeker saja ke dalam sambil nentengin sepatu. Kesan pertama rumahnya Martijn itu, yaa.. namanya juga rumah bujang cowok, tas dan sepatu dimana-mana, laptop gletak aja di meja, tapi dapurnya dong.. bersih kinclong, toiletnya juga! Saat itu tidak ada orang, jadi mumpung lagi sendirian saya foto-foto deh rumahnya 😛

Ngarep punya dapur begini di rumah

Beberapa jam kemudian, Martijn pulang ke rumah dan kami pun berkenalan. Saya kaget dengan cowok Belanda, tinggi buangeet! Saya saja bicara dengan dia harus dongak, kepala saya hanya dibawah ketiaknya dia kali! Sampai-sampai saya bilang “kamu tuh tinggi banget!” dan dia cuma ketawa (tingginya 186cm loh!) :)) Oia, dia tidak sendirian pulang, melainkan bawa temannya dengan tinggi yang sama (hueee..) bernama Aaron yang saya anggap mukanya kaya boyband (atau persis kaya Prince William waktu umur 20-an), lucuuu! Tapi sialnya saya kenalan dengan Aaron dalam kondisi rambut saya berantakan, muka saya kucel, karena perjalanan panjang dari Indonesia kemari, arrgh! XD So far, Martijn orangnya ramah dan asik, yaah.. tipikal cowok gaul gimana sih, atleast orangnya menyenangkan. Dia tidak bisa lama-lama disitu karena ada shift malam. Selama 4 malam berikutnya kami tidak pernah ketemu karena saat dia kerja saya pulang dan saat dia pulang saya malah pergi.

Walaupun fasilitas tersedia di rumah seperti mesin cuci (yang diletakkan di kamar saya di loteng), dapur, dan tv di living room, namun tidak saya pakai. Boro-boro mau dipakai, saya saja sudah pergi pagi sekali dan pulang malam sekali jadi mau ngapa-ngapain sudah capek!

Living room

Orang Belanda seneng banget pakai sepeda, Martijn sempat menawarkan sepeda punya ceweknya yang katanya cuma setinggi 160cm (setinggi saya) tapi ketika saya duduk, kaki saya gantung dan tidak ada rem pula :(( daripada nabrak anak orang akhirnya tidak jadi deh, padahal saya mau ke grocery beli bekal buat masak di dapur.

Tempat tidurnya nyaman! Empuk-empuk cozyy, dan kamar mandinya juga bersih, ada air panasnya pula (memang harus ada!).

Satu hari menjelang check out, saya private message ke Martijn memberitahukan bahwa besok pagi-pagi saya harus pergi karena janjian sama rombongan open trip di Schiphol jam 9, Martijn menjawab dan berharap semoga saja kami bisa bertemu.

Jam 11 malam ketika saya selesai mandi mesin cuci di kamar saya ternyata sedang bekerja (saat itu saya pikir mungkin Martijn meninggalkan pakaian kotornya disini) dan setelah itu berbunyi ‘beep-beep’ terus menerus padahal putaran di dalamnya sudah berhenti, bagaimana saya mau tidur mana besok harus berangkat pagi-pagi. Saya pelajari bahasa tombol di mesin cuci (pakai Bahasa Belanda pula) duuh rasanya mau nangis, tanpa pikir panjang saya klik saja ‘pause/start’ barangkali si beep-beep jadi diam. Eehh, malah mencuci ulang dari awal, arrghh XD sudahlah, saya tinggalkan saja (pura-pura tidak tahu). Saat saya sedang bebenah diri di karpet tiba-tiba Aaron masuk ke kamar saya dong, ternyata baru ketahuan kalau Aaron pinjam mesin cucinya Martijn karena punya dia rusak, hadeuuhh.. ganteng-ganteng merepotkan orang saja -___-” dia pikir di kamar sudah tidak ada orang jadi dia mencuci disitu, tiba-tiba dia bingung kenapa mesinnya belum selesai mencuci padahal sudah disetting 50 menit, ketika saya beritahu apa yang saya lakukan terhadap mesin itu, dia ketawa dan bilang “yang kamu pencet itu artinya mencuci ulang dan saya harus berterima kasih sama kamu karena membuat pakaian saya dua kali lebih bersih”, saya jawab saja ya lagian cuci di kamar saya tidak bilang-bilang! Dia sih pasrah saja dan malah duduk di sofa samping saya O_O lah ini orang mau ngapain, pikir saya, ternyata dia mengajak ngobrol sambil menunggu mesinnya selesai bekerja. Baiklaah, kapan lagi ngobrol sama orang ganteng (padahal saya sudah ngantuk luar biasa). Aaron menyenangkan orangnya, dia cerita tentang ceweknya yang blasteran Indonesia-Belanda, sampai meng-screencapture jadwal kereta dan bis untuk saya besok (dia menunjukkan jadwal dari hpnya dalam posisi muka dekat sekali dengan saya, 1 inchi lagi pipi kami nempel kali, saya jadi tidak konsen mendengarkan karena grogi XD ). Dua jam kemudian kami masih ngobrol dan tidak lama Martijn masuk kamar dan bertanya ngapain kami berdua disini, akhirnya kami cerita tentang insiden mesin cuci dan Martijn ngakak aja gitu, duuh malu deh saya -____-” sambil bercanda dia bilang akan nulis testimonial tentang saya yang merusak propertinya, tapi gak lah.. testinya dia aman kok 😛 Anyway, Aaron juga punya 6 rumah yang disewakan untuk Airbnb lho! Jika penasaran dengan tampang boyband-nya Aaron bisa cek di website Airbnb di Utrecht dengan nama Finn.

Honestly they are very good host! Saya meng-appreciate hospitality-nya mereka, Martijn walaupun sibuk banget tapi komunikasi dengan dia justru lancar dan quick response, tidak heran sih dia dikasih gelar superhost.

Kesimpulan saya mengenai Airbnb pertama;

    1. Kalau ada sesuatu yang harus di-infokan ke host seperti preferensi makan dan minuman halal, bilang saja! Kalau tidak di-infokan, seandainya host-nya berniat mau kasih complimentary makanan atau minuman jadi tidak salah.
    2. Tanyakan ke host, untuk sepatu/sendal apakah boleh dipakai ke dalam (misal dari luar rumah ke kamar, atau dari kamar ke luar rumah). Di rumah Martijn, dia ke kamar saya dalam kondisi pakai sepatu dari luar rumah dan lantai kamar saya jadi berpasir! XD jadi besok-besoknya saya pakai sepatu dari kamar ke dapur untuk isi air ke botol kemudian keluar rumah tanpa harus nyeker di rumahnya.
    3. Tanyakan ke host, apa saja yang boleh diminta di dapur. Dapurnya Martijn banyak sekali makanan di kulkas, kopi, susu, cornflakes, wine ada diatas meja, saya agak ragu minta kopinya dia karena belum bertanya XD
    4. Dengan menggunakan Airbnb, saya merasakan langsung kehidupan orang lokal setempat, kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lokal di rumah jauh lebih banyak karena ada saja cerita ketika berinteraksi dengan mereka seperti pengalaman saya dengan Aaron, dibandingkan dengan hostel/hotel yang ujung-ujungnya ketemu dengan turis juga sehingga sharing mengenai lokasi dan budaya setempat tidak maksimal.

Sepertinya itu saja pengalaman saya tentang Airbnb yang membuat saya ingin menggunakan jasa ini lagi untuk trip selanjutnya. 😉